Kuliah Daring menjadi menjad pembahasan yang sangat menarik untuk dikembangkan oleh para akademsi termasuk Eko Suprati , S.Sn.,M.A. alumni angkatan 2002 Jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) tersebut mencoba mengutarakan cara pandangnya tentang kuliah daring saat mengunjungi jurusan Fotografi Selasa (13/7). Alumni tahun 2015 University of Bedfordshire, Inggris, Jurusan Pendidikan Kreativitas tersebut mengungkapkan bentuk kuliah daring yang ada di Indonesia belum sesuai dengan kriteria kuliah daring yang ada di Eropa.

Peraih beasiswa Kemendikbud untuk berkuliah di luar negeri tersebut memberikan pandanganya tentang bagaimana kuliah umum dan kuliah online yang ideal karena di Indonesia yang terjadi saat ini masih 50% daring sedang 50% lagi luring. Pola Pendidikan di Eropa pun banyak yang mengeluh pada saat menghadapi pelajaran daring akan tetapi bukan karena pandemi Covid-19 tetapi pola Pendidikan yang berubah drastis.

Kuliah atau berbagai macam Pendidikan berpola daring hendaknya ada kejasama yang berkesinambungna antara siswa, guru dan murid tidak hanya membiarkan putra putrinya mengikuti pola Pendidikan daring akan tetapi tidak ada control dari orang tua. Idealnya kuliah daring Learning Manajemen Sistem (LMS). Tidak hanya melakukan kuliah online saja LMS harus memiliki iklim Pendidikan yang jelas, ringkas dan interaktif sehingga kuliah umum yang sering dilakukan tidaklah sama dengan mutu Pendidikan kuliah online di Eropa.

Eko Suprati juga memberikan pandanganya untuk perkembangan Jurusan Fotografi karena menurutnya hendaknya seni dan lembaga yang mengajarkan tentang seni tidak berjarak dengan masyarakat karena dengan menghilangkan jarak karya dan Pendidikan fotografi  akan menemukan fungsinya di masyarakat. Akan lebih baik lagi jika sekolah-sekolah seni bisa berada di tengah masyarakat tandas dosen PPPPTK Seni dan Budaya tersebut. (Nico Kurnia Jati)

Eko Suprati: S-1 di Sewon, S-2 di University of Bedfordshire Inggris